Employee Well-Being dan ESG: 3 Tahap Wellbeing Perusahaan serta 5 Dimensi Career Wellbeing
JurnalFinansial.com - KTM Solutions menegaskan bahwa kesejahteraan pekerja (employee well-being) bukan lagi fasilitas tambahan, melainkan bagian dari strategi keberlanjutan bisnis dan penerapan nilai Environmental, Social, and Governance (ESG). Pesan itu disampaikan dalam sesi di Indonesia Human Capital & Beyond Summit (IHCBS) 2026 di Tangerang, dengan penekanan bahwa daya tahan perusahaan sangat ditentukan oleh cara organisasi merawat modal manusianya (human capital).
Dampak abainya isu ini terukur. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) mencatat depresi dan kecemasan membuat produktivitas dunia kehilangan hingga mendekati US$ 1 triliun. Survei global 2025 menemukan sekitar 25 persen pekerja mengalami stres berat lantaran cemas kehilangan pekerjaan. Burnout dan kekhawatiran soal kepastian kerja (job security) pun tidak berhenti pada individu, tetapi turut menggerus ketahanan organisasi.
Director of Strategic & Advisory KTM Solutions Ivan Ahda menyoroti kecenderungan perusahaan yang melempar persoalan burnout kepada pekerja masing-masing.
“Kita terlalu sering menjadikan burnout sebagai tanggung jawab individu dengan meminta mereka lebih mampu mengelola stres,” ungkap Ivan Ahda, Director of Strategic & Advisory KTM Solutions, dalam perhelatan Indonesia Human Capital & Beyond Summit (IHCBS) 2026 di Tangerang. “Namun ketika burnout terus berulang, mungkin yang perlu kita lihat bukan lagi hanya individunya, tetapi juga lingkungan dan cara kerja yang membentuk keseharian mereka,” tegasnya. “Sustainable business membutuhkan sustainable contribution. Dengan perspektif itu, kepentingan bisnis dan wellbeing sebenarnya tidak perlu ditempatkan sebagai dua hal yang berlawanan. Wellbeing menjaga kapasitas manusianya, dan kapasitas manusia menjaga keberlanjutan bisnisnya,” jelasnya.
Tiga Tahap Cara Perusahaan Memaknai Wellbeing
Dalam sesi bertajuk “The Burnout Audit: Detecting Organizational Fatigue Before Turnover Occurs”, KTM Solutions memetakan perkembangan kesadaran perusahaan terhadap kesejahteraan pekerja ke dalam tiga tahap:
- Benefit Based Wellbeing: wellbeing hanya dipandang sebagai manfaat fisik atau finansial, seperti asuransi kesehatan, seminar, dan fasilitas olahraga.
- Programmatic Wellbeing: perusahaan mulai aktif mengukur employee experience melalui program khusus, misalnya employee assistance, jadwal kerja fleksibel (flexible working), dan pelatihan kesehatan mental.
- Systemic Wellbeing: wellbeing menyatu dalam desain dan kultur organisasi. Penilaiannya tidak berhenti pada program yang diberikan, tetapi melihat apakah rancangan beban kerja (job design), kepemimpinan (leadership), dan sistem alokasi sumber daya memungkinkan pekerja berkontribusi secara berkelanjutan.
Lima Dimensi Career Wellbeing
Supaya pendekatannya menyeluruh, kesejahteraan karier pekerja dilihat dari lima dimensi (Career Wellbeing):
- Sosial (Social Wellbeing): mutu hubungan kerja, rasa saling mendukung (sense of belonging), dan interaksi positif dalam organisasi.
- Psikologis (Psychological Wellbeing): kepuasan, kebahagiaan, rasa bermakna (sense of meaning) dalam bekerja, serta kesehatan mental yang terjaga.
- Lingkungan (Environmental Wellbeing): rasa aman dan nyaman, kecocokan fasilitas, dan dukungan tata kerja di tempat bekerja.
- Finansial (Financial Wellbeing): kemampuan mencukupi kebutuhan hidup, rasa aman secara finansial, dan perencanaan keuangan masa depan yang stabil.
- Fisik (Physical Wellbeing): stamina dan kondisi fisik yang terjaga demi memenuhi tuntutan pekerjaan secara optimal.
Contribution Awareness sebagai Jembatan
Burnout dan rasa cemas kehilangan pekerjaan sering mendorong pekerja mengorbankan keseimbangan hidup dan kerja (work life balance) untuk membuktikan nilai diri di mata perusahaan. Menurut Ivan, jalan keluarnya bukan dengan menuntut tiap pekerja menghasilkan pendapatan (revenue) secara langsung.
“Untuk menjembatani kontribusi pekerja dan keberlanjutan organisasi, pendekatan yang dibutuhkan bukanlah menuntut pekerja selalu menghasilkan pendapatan (revenue) secara langsung, melainkan membangun contribution awareness,” jelas Ivan.
Ia menjelaskan bahwa banyak peran menciptakan nilai (value) melalui efisiensi, peningkatan kualitas, retensi pelanggan, pencegahan risiko, hingga inovasi. Karena itu, organisasi perlu menyediakan penilaian kinerja yang transparan dan berbasis kontribusi nyata, membuka ruang pengembangan kapasitas, serta menghadirkan rasa aman berkarier (career security).
“Tantangan utama bisnis masa depan bukan memilih antara wellbeing atau kinerja finansial, melainkan merancang tata kerja di mana manusia dapat terus menciptakan nilai bagi bisnis tanpa mengorbankan kapasitas dan kesehatan dirinya,” pungkasnya.
Career Wellbeing Assessment di IHCBS 2026
Di luar sesi berbagi, KTM Solutions menyediakan Career Wellbeing (CWB) Assessment selama IHCBS 2026 yang berlangsung pada 15-16 September 2026. Melalui asesmen ini, pengunjung dapat mengetahui kondisi career wellbeing mereka berdasarkan lima dimensi tersebut, sehingga lebih memahami kaitannya dengan perjalanan karier masing-masing.
