Senin, 19 Okt 2026 NasionalPerbankanInvestasiBisnisEkonomi
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

IMF Prediksi Ekonomi Asia Tumbuh 4,8 Persen pada 2026, Indonesia Bertahan 5,1 Persen

✍️ iken Larasati 🕒 16 Oct 2026 👁️ 3x dibaca
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan ekonomi dunia.
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan ekonomi dunia. Foto: Istimewa

JurnalFinansial.com - Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan ekonomi Asia hanya tumbuh 4,8 persen pada 2026, lebih rendah dari 5 persen pada 2025, lalu melambat lagi ke 4,4 persen pada 2027. Indonesia diproyeksikan lebih stabil dengan pertumbuhan 5,1 persen pada 2026 dan 2027. Angka itu tercantum dalam laporan Regional Economic Outlook: Asia and Pacific edisi Oktober 2026 yang dikutip Jumat (16/10/2026).

Meski melambat, proyeksi terbaru ini lebih baik daripada perkiraan IMF pada April 2026 yang sebesar 4,4 persen. Proyeksi 2027 juga dinaikkan dari 4,2 persen menjadi 4,4 persen. IMF menyebut Asia masih menjadi penggerak ekonomi dunia dengan kontribusi sekitar dua pertiga pertumbuhan global. Kawasan ini dinilai tangguh menghadapi guncangan energi, perubahan pola dagang, dan lonjakan investasi kecerdasan buatan (AI).

IMF mengingatkan bahwa ketangguhan tersebut tidak dirasakan merata. Negara yang menikmati tingginya permintaan produk teknologi berada di posisi lebih baik, sedangkan negara lain terbebani kenaikan harga bahan bakar, biaya transportasi, listrik, dan pupuk. IMF juga mencatat pola pertumbuhan berbentuk huruf K (K-shaped growth) di sejumlah negara Asia, ketika sebagian kelompok dan sektor melaju sementara yang lain tertinggal. Artinya, angka pertumbuhan agregat belum menggambarkan pemerataan manfaat. Bagi Indonesia, dampaknya dapat menjalar melalui biaya energi, produksi pertanian, perdagangan regional, investasi teknologi, dan pasar keuangan.

Energi dan Pupuk Bebani Sektor Pertanian

IMF menyoroti pengaruh konflik Timur Tengah terhadap harga energi dan biaya produksi. Asia tergolong tahan banting meski kawasan ini boros energi dan sangat bergantung pada bahan bakar impor, terutama dari Timur Tengah. Sejumlah negara meredam gangguan pasokan minyak dengan memakai cadangan, menekan permintaan, mencari pemasok baru, dan beralih ke energi alternatif. China memakai cadangan minyak dan menekan konsumsi, antara lain lewat peningkatan energi terbarukan, sedangkan India dan Jepang mencari pasokan dari sumber lain.

Namun, harga minyak diperkirakan tetap tinggi dan bergejolak lebih lama dari dugaan semula, sementara kemampuan adaptasi negara ada batasnya, termasuk berapa lama cadangan minyak bisa dipakai. IMF secara khusus menyebut Indonesia, Kamboja, dan Nepal sebagai negara dengan sektor pertanian besar yang menghadapi lonjakan biaya akibat mahalnya energi dan pupuk. Kenaikan itu mengerek biaya usaha tani, menurunkan hasil panen, dan membebani produksi.

Tekanan lebih berat dirasakan negara berpendapatan rendah dan negara kepulauan Pasifik karena mahalnya bahan bakar menambah beban biaya hidup yang sudah menumpuk. Solar vital bagi pembangkit listrik di negara berpendapatan rendah, sedangkan avtur penting bagi transportasi udara di kepulauan Pasifik. Beberapa pemerintah memakai subsidi dan pembatasan harga bahan bakar untuk melindungi rumah tangga dan dunia usaha, tetapi IMF mengingatkan dukungan fiskal yang luas dan tidak terarah justru menambah beban keuangan negara.

AI Jadi Penopang, tetapi Risikonya Tetap Ada

Di tengah tekanan energi, lonjakan permintaan global terkait AI menopang pertumbuhan sejumlah ekonomi Asia. Permintaan semikonduktor kelas atas, komponen teknologi, dan infrastruktur AI mendorong ekspor serta investasi, terutama di negara yang terhubung dalam rantai pasok teknologi. China, India, Jepang, Indonesia, dan Malaysia tercatat menerima investasi pembangunan pusat data, yang ikut meningkatkan permintaan barang antara dari pemasok regional seperti Thailand dan Vietnam.

IMF menegaskan besaran investasi AI dan dampak jangka panjangnya masih belum pasti. Koreksi investasi atau valuasi aset terkait AI berpotensi memicu penurunan investasi dan gejolak pasar keuangan, risiko yang relevan bagi Asia karena perannya yang besar dalam produksi teknologi global. Pembangunan infrastruktur AI juga membutuhkan lebih banyak air, listrik, dan kapasitas jaringan listrik.

IL
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update