Selasa, 03 Nov 2026 NasionalPerbankanInvestasiBisnisEkonomi
Breaking
Beranda › Investasi
Investasi

351 Saham Kena ARB 7%, Kapitalisasi Pasar Tembus Rp3.197 Triliun

✍️ iken Larasati 🕒 19 Oct 2026 👁️ 10x dibaca
Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (19/10/2026).
Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (19/10/2026). Foto: CNBC Indonesia/Faisal Rahman

JurnalFinansial.com - Sebanyak 351 saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) menyentuh batas auto reject bawah (ARB) pada perdagangan Senin (19/10/2026), hari pertama penerapan batas ARB baru sebesar 7%. Total kapitalisasi pasar saham-saham tersebut mencapai sekitar Rp3.197 triliun, atau setara 36% dari 963 saham yang tercatat di bursa.

Berdasarkan data BEI yang diolah CNBC Indonesia, tekanan jual juga menyasar sejumlah saham berkapitalisasi besar, termasuk PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM).

BBCA turun 6,86% ke Rp4.820 per saham dengan kapitalisasi pasar Rp588,24 triliun, terbesar di antara saham yang menyentuh ARB pada hari itu. BYAN melemah 6,95% ke Rp10.375, sedangkan AMMN terkoreksi 6,95% ke Rp3.480. TLKM turun 6,84% ke Rp1.770, sementara PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) merosot 6,91% ke Rp3.640.

Saham berkapitalisasi besar lainnya yang ikut menyentuh ARB antara lain PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA).

Kapitalisasi pasar 20 saham dengan nilai terbesar yang menyentuh ARB mencapai sekitar Rp2.302 triliun, atau sekitar 72% dari total kapitalisasi pasar seluruh saham yang terkena ARB pada perdagangan tersebut.

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) juga tertahan di batas bawah setelah turun Rp1 menjadi Rp24 per saham. GOTO menjadi saham dengan volume transaksi terbesar, mencapai 9,56 miliar saham. Hingga penutupan perdagangan, antrean jual saham tersebut masih tersisa sekitar 1,2 miliar saham.

Secara keseluruhan, BEI mencatat 691 saham melemah, 103 saham menguat, dan 169 saham tidak berubah.

BEI Turunkan Batas ARB Menjadi 7%

BEI, dengan dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menurunkan batas ARB saham dari 15% menjadi 7% secara asimetris. Kebijakan tersebut diatur dalam Surat Keputusan Direksi BEI No. Kep-00157/BEI/10-2026 tentang Perubahan Peraturan Nomor II-A mengenai Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas.

Ketentuan ini berlaku mulai 19 Oktober hingga 31 Desember 2026. BEI akan mengevaluasi kembali kebijakan tersebut dengan mempertimbangkan kondisi pasar.

Perubahan batas ARB dilakukan setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 11,57% pada Jumat (16/10/2026). Penurunan tersebut terjadi di tengah pengumuman MSCI yang membuka kemungkinan Indonesia dipindahkan ke klasifikasi standalone market.

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menilai penerapan batas ARB baru cukup efektif meredam kepanikan pasar pada sesi pertama perdagangan Senin.

"Sesi pertama ini itu cukup efektif untuk meredam kepanikan pasar," kata Jeffrey kepada wartawan di Gedung BEI, Senin (19/10/2026).

Jeffrey menambahkan, penurunan pasar masih mungkin terjadi. Namun, ia berharap koreksi berlangsung melalui mekanisme perdagangan yang baik dan didasarkan pada informasi yang diterima seluruh investor secara simetris.

IHSG Ditutup Turun 3,64%

IHSG mengakhiri perdagangan Senin dengan melemah 188,49 poin atau 3,64% ke level 4.996,61. Indeks sempat merosot hingga 5,36% ke level terendah 4.907,37 sebelum memangkas koreksi dan kembali bergerak di atas level psikologis 5.000.

Nilai transaksi tercatat sebesar Rp25,13 triliun dengan volume perdagangan mencapai 34,07 miliar saham. Seluruh sektor berakhir di zona merah, dengan penurunan terdalam terjadi pada sektor bahan baku, konsumer non-primer, teknologi, dan keuangan.

Saham BBCA, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), BYAN, TLKM, dan AMMN menjadi pemberat utama IHSG.

Tekanan pasar masih berkaitan dengan kabar bahwa MSCI mempertimbangkan perubahan klasifikasi Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Goldman Sachs memperkirakan arus keluar dana pasif berpotensi mencapai US$5,6 miliar atau sekitar Rp100,8 triliun apabila Indonesia dikeluarkan dari indeks MSCI.

Sepanjang 2026, investor asing tercatat membukukan jual bersih saham Indonesia sebesar US$4,88 miliar atau sekitar Rp87,84 triliun.

IL
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update