Selasa, 03 Nov 2026 NasionalPerbankanInvestasiBisnisEkonomi
Breaking
Beranda › Bisnis
Bisnis

Bisnis AI dan Starlink Dongkrak Laba SpaceX Jadi Rp 79,2 Triliun

✍️ iken Larasati 🕒 21 Oct 2026 👁️ 9x dibaca
Ilustrasi SpaceX akuisisi xAI.
Ilustrasi SpaceX akuisisi xAI. Foto: Istimewa

JurnalFinansial.com - SpaceX membukukan laba bersih sebesar 4,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp 79,2 triliun pada kuartal III-2026. Capaian perusahaan antariksa milik Elon Musk ini jauh melampaui perkiraan analis, didorong lonjakan bisnis kecerdasan buatan (AI) dan layanan internet satelit Starlink.

Pada periode Juli-September 2026, pendapatan SpaceX mencapai 14,6 miliar dollar AS atau sekitar Rp 262,7 triliun. Nilai tersebut meningkat 161 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, perkiraan laba bersih analis berada di angka 1,88 miliar dollar AS atau sekitar Rp 33,8 triliun.

Bisnis AI menjadi salah satu motor utama pertumbuhan perusahaan. Segmen yang kini bernama Super Intelligence itu mencatat pendapatan sebesar 7,56 miliar dollar AS atau sekitar Rp 136 triliun selama kuartal III-2026. Angka tersebut melonjak lebih dari sembilan kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Segmen AI juga berbalik mencatat laba operasional sebesar 431 juta dollar AS atau sekitar Rp 7,8 triliun. Padahal, pada kuartal III-2025, bisnis tersebut masih mengalami kerugian operasional sebesar 1,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp 30,6 triliun.

Meski demikian, laporan tersebut mencatat adanya biaya kompensasi berbasis saham sebesar 1,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 21,6 triliun yang berkaitan dengan akuisisi Cursor. Biaya ini turut memengaruhi hasil keuangan bisnis AI SpaceX.

Sejak Elon Musk menggabungkan xAI ke dalam SpaceX pada Februari 2026, lini bisnis AI perusahaan mencakup berbagai layanan, mulai dari model AI Grok dan perangkat pemrograman Cursor hingga penyediaan infrastruktur komputasi bagi perusahaan lain. SpaceX juga menjadi salah satu pemasok infrastruktur komputasi untuk perusahaan AI, termasuk Anthropic dan Alphabet.

Untuk memperkuat bisnis tersebut, SpaceX tengah membangun sejumlah pusat data, termasuk proyek Colossus II di Memphis, Tennessee, Amerika Serikat. Musk mengatakan dirinya menghabiskan empat hari dalam sepekan di Memphis untuk membantu mempercepat pengoperasian pusat data tersebut.

Menurut Musk, ketersediaan listrik, sistem pendingin, dan infrastruktur kini menjadi tantangan penting dalam pengembangan AI, selain pasokan chip.

Di luar bisnis AI, Starlink masih menjadi sumber pendapatan besar bagi SpaceX. Layanan internet satelit itu menghasilkan pendapatan sebesar 5,25 miliar dollar AS atau sekitar Rp 94,5 triliun pada kuartal III-2026, tumbuh 69 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Jumlah pelanggan Starlink tercatat mencapai 13,6 juta orang di 174 negara. Dikutip KompasTekno dari The Business Times, Musk juga memperkirakan perkembangan agen AI akan meningkatkan kebutuhan konektivitas internet. Kondisi ini berpotensi membuka peluang pertumbuhan tambahan bagi layanan internet berbasis satelit tersebut.

Namun, pertumbuhan pendapatan dan laba SpaceX berjalan beriringan dengan peningkatan kebutuhan investasi. Perusahaan mencatat belanja modal sebesar 19,6 miliar dollar AS, seiring pembangunan pusat data dan pengembangan roket Starship.

Starship diproyeksikan berperan penting dalam peluncuran generasi baru satelit Starlink serta pengembangan pusat data di orbit Bumi. Chief Financial Officer SpaceX Bret Johnsen memperkirakan perusahaan akan menggelontorkan investasi modal sebesar 35 miliar dollar AS hingga 40 miliar dollar AS pada kuartal IV-2026.

Meski meraih laba bersih pada kuartal III-2026, secara kumulatif SpaceX masih membukukan kerugian bersih sebesar 413 juta dollar AS atau sekitar Rp 6,9 triliun selama sembilan bulan pertama 2026.

IL
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update