ESG di Asia Bergeser dari CSR ke Strategi Bisnis, 52 Perusahaan Masuk Ajang Regional
JurnalFinansial.com - Penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola atau environmental, social and governance (ESG) di dunia usaha Asia semakin berkembang. Perusahaan kini tidak lagi hanya menjalankan program keberlanjutan melalui tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR), tetapi mulai mengintegrasikannya ke dalam strategi dan kegiatan inti bisnis.
Perubahan tersebut tercermin dalam berbagai inisiatif perusahaan yang dinilai melalui ajang Asia ESG Positive Impact Awards (PIA) 2026. Para juri menilai, upaya keberlanjutan akan memberikan dampak lebih besar ketika kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat menjadi bagian dari operasional perusahaan.
Presiden sekaligus Kepala Ilmuwan Center for Conservation Innovations, Dr Neil Aldrin Mallari, mengatakan sejumlah inisiatif yang dinilainya menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan dengan kegiatan bisnis.
"Program terbaik yang saya baca bukan sekadar proyek CSR. Inisiatif-inisiatif tersebut membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat menjadi bagian dari cara sebuah bisnis dijalankan," ujarnya.
Menurut Mallari, keberlanjutan program dalam jangka panjang menjadi salah satu pembeda antara CSR biasa dan inisiatif yang telah terintegrasi dengan perusahaan. Program CSR berpotensi berhenti ketika anggaran berakhir. Sebaliknya, inisiatif yang menjadi bagian dari tata kelola dan budaya perusahaan memiliki peluang lebih besar untuk terus berjalan.
Dampak ESG Harus Terukur dan Berkelanjutan
Kepala Unit ESG Malaysia External Trade Development Corporation, Haris Abdul Latiff, menyampaikan pandangan serupa. Ia menilai, inisiatif perusahaan yang mampu memberikan dampak nyata umumnya memanfaatkan kemampuan, teknologi, dan model bisnis perusahaan sendiri.
Pendekatan tersebut memungkinkan manfaat program bertahan lebih lama sekaligus dikembangkan dalam skala yang lebih luas.
Sejumlah contoh inisiatif yang ditemukan dalam penilaian Asia ESG PIA 2026 antara lain menghubungkan masyarakat pedesaan dengan pasar ekspor, memperluas akses melalui platform digital, memanfaatkan aset tidak terpakai untuk kegiatan produktif rendah karbon, serta membuka peluang ekonomi bagi kelompok rentan.
Namun, Haris mengingatkan bahwa pelaksanaan program keberlanjutan perlu disertai pengukuran dampak yang jelas. Perusahaan perlu menggunakan data yang dapat dipertanggungjawabkan, mengukur hasil dalam jangka panjang, serta melibatkan verifikasi independen jika memungkinkan.
"Semakin penting bagi perusahaan untuk menunjukkan bukan hanya apa yang telah dilakukan atau berapa banyak orang yang berpartisipasi, melainkan juga perubahan bermakna yang terjadi dari waktu ke waktu dan apakah manfaat tersebut dapat terus berlanjut setelah periode program berakhir," katanya.
Sementara itu, Ketua Indonesian Society of Sustainability Professionals, Satrio Prakoso, menyoroti perkembangan aspek sosial ESG di Asia. Berbagai inisiatif perusahaan kini mencakup peningkatan kesejahteraan karyawan, keberagaman dan inklusi, serta pengembangan talenta.
Ia juga melihat semakin banyak perusahaan yang menghubungkan program sosial dengan tujuan pelestarian lingkungan. Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan inisiatif tidak hanya diukur dari manfaat ekologis, tetapi juga dampaknya terhadap karyawan, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya.
52 Peraih Gold Award Melaju ke Tingkat Regional
Berbagai inisiatif tersebut menjadi bagian dari penilaian Asia ESG PIA 2026, ajang penghargaan regional yang memasuki tahun kedua penyelenggaraan.
Sebanyak 52 peraih penghargaan Gold dari tiga ajang ESG nasional di Indonesia, Malaysia, dan Filipina berhasil melaju ke tahap regional.
Para peserta merupakan pemenang ESG Positive Impact Awards yang diselenggarakan Star Media Group di Malaysia, ESG Edge Impact Awards dari Inquirer Group of Companies di Filipina, serta Lestari Awards dari Grup Media Kompas Gramedia di Indonesia.
Peserta yang mengikuti penilaian berasal dari berbagai skala usaha, mulai dari perusahaan besar, usaha kecil dan menengah (UKM), hingga perusahaan kelas menengah.
Seluruh peserta dinilai oleh delapan juri dari berbagai negara pada September 2026. Pemenang dari 12 kategori akan diumumkan dalam malam penganugerahan Asia ESG PIA pada 4 November 2026 di KLGCC Convention Centre, Kuala Lumpur, Malaysia.
Asia ESG PIA merupakan inisiatif Asia ESG Positive Impact Consortium, konsorsium media yang mempertemukan Star Media Group, Inquirer Group of Companies, dan Grup Media Kompas Gramedia.
Asia ESG PIA 2026 Gelar Lokakarya Pemanfaatan AI
Menjelang malam penganugerahan, penyelenggara juga akan menggelar sesi jejaring yang mempertemukan peserta penghargaan dengan para pemimpin di bidang keberlanjutan dari Indonesia, Malaysia, dan Filipina.
Kegiatan tersebut ditujukan untuk memperluas jejaring regional sekaligus mendorong pertukaran pengetahuan dan pengalaman dalam penerapan ESG.
Rangkaian acara juga mencakup lokakarya pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mendukung pelaksanaan ESG.
Lokakarya bertajuk "AI for Practical ESG Execution: Turning Data into Actionable Insights" tersebut akan dipandu praktisi AI sekaligus Kepala Ilmuwan Data, Dr Lau Cher Han.
Peserta akan mempelajari penggunaan berbagai aplikasi AI untuk mendukung pekerjaan terkait ESG, mulai dari pengumpulan dan pengolahan data, penyusunan draf dokumen, pemeriksaan, hingga pelaporan.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Asia ESG PIA 2026 tidak hanya menjadi ajang apresiasi bagi perusahaan, tetapi juga ruang untuk mempertemukan pelaku usaha dan praktisi keberlanjutan dalam mengembangkan praktik ESG di tingkat regional.
