Selasa, 03 Nov 2026 NasionalPerbankanInvestasiBisnisEkonomi
Breaking
Beranda › Perbankan
Perbankan

Kredit Perbankan Balikpapan Tumbuh 7 Persen, DPK Turun 10,42 Persen

✍️ iken Larasati 🕒 30 Oct 2026 👁️ 7x dibaca
UMKM binaan KPw BI saat mengikuti pameran dalam rangka perluasan pasar. Berdasarkan catatan KPw BI Balikpapan, UMKM salah sektor yang menyumbang pertumbuhan kredit perbankan diikuti dengan kualitas kredit yang cukup baik. Dari 4,2 persen rasio kredit bermasalah yang dicatatkan sebelumnya turun menjadi 3,6 persen
UMKM binaan KPw BI saat mengikuti pameran dalam rangka perluasan pasar. Berdasarkan catatan KPw BI Balikpapan, UMKM salah sektor yang menyumbang pertumbuhan kredit perbankan diikuti dengan kualitas kredit yang cukup baik. Dari 4,2 persen rasio kredit bermasalah yang dicatatkan sebelumnya turun menjadi 3,6 persen Foto: kotaku.co.id/ist

JurnalFinansial.com - Penyaluran kredit perbankan di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Balikpapan, Kalimantan Timur, mencapai Rp42,53 triliun pada Triwulan III 2026. Nilai tersebut tumbuh 7 persen secara tahunan (year on year/YoY), tetapi penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) justru mengalami kontraksi 10,42 persen.

Wilayah kerja KPw BI Balikpapan meliputi Kota Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), dan Kabupaten Paser.

Berdasarkan catatan BI, pertumbuhan kredit pada Triwulan III 2026 melambat dibandingkan Triwulan II 2026 yang mencapai 17,66 persen secara tahunan. Pada periode tersebut, total kredit perbankan tercatat sebesar Rp41,51 triliun.

Sementara itu, DPK yang dihimpun perbankan pada Triwulan III 2026 turun menjadi Rp44,58 triliun. Padahal, pada triwulan sebelumnya DPK masih tumbuh 4,15 persen dengan nilai Rp49,52 triliun.

Kepala KPw BI Balikpapan Robi Ariadi mengatakan, penurunan penghimpunan dana perbankan perlu menjadi perhatian agar pertumbuhan pembiayaan dapat terus berlanjut.

“Penguatan penghimpunan dana perbankan dibutuhkan agar penyaluran kredit dapat terus berkembang dan mendukung aktivitas ekonomi daerah,” ujarnya dalam siaran pers yang disampaikan Jumat (30/10/2026).

Meski DPK mengalami penurunan, aktivitas intermediasi perbankan masih menunjukkan pertumbuhan kredit. Kondisi tersebut mencerminkan peran perbankan dalam mendukung kegiatan usaha, investasi, dan pembiayaan masyarakat.

Kredit investasi menjadi penopang pembiayaan

Berdasarkan jenis penggunaannya, kredit investasi menjadi salah satu penopang penyaluran pembiayaan perbankan di wilayah kerja BI Balikpapan. Kredit ini tumbuh 7,86 persen secara tahunan dengan pangsa 39,88 persen dari total kredit.

Pembiayaan investasi tersebut berkaitan dengan kebutuhan investasi, proyek konstruksi, dan pengembangan industri.

Sementara itu, kredit konsumsi tumbuh 6,43 persen, meningkat dibandingkan pertumbuhan pada Triwulan II 2026 sebesar 5,95 persen. Pertumbuhan ini didukung daya beli masyarakat yang relatif terjaga.

Adapun kredit modal kerja tumbuh 6,46 persen. Pembiayaan tersebut umumnya digunakan pelaku usaha untuk memenuhi kebutuhan operasional, seperti pembelian bahan baku dan persediaan barang.

Secara keseluruhan, kredit investasi dan modal kerja yang digunakan untuk mendukung kegiatan usaha memiliki pangsa 64,40 persen dari total kredit. Sementara itu, kredit konsumsi mengambil porsi 35,60 persen.

Kredit konstruksi masih mengalami kontraksi

Dari sisi lapangan usaha, penyaluran kredit perbankan masih terkonsentrasi pada tiga sektor utama, yakni konstruksi dengan pangsa 18,40 persen, perdagangan 14,67 persen, dan pertanian 11,12 persen.

Namun, perkembangan pertumbuhan kredit pada ketiga sektor tersebut menunjukkan kondisi yang berbeda.

Kredit perdagangan tumbuh 12,62 persen secara tahunan. Penguatan ini didukung kebutuhan pembiayaan persediaan barang menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), serta meningkatnya aktivitas Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE).

Kredit pertanian juga mencatatkan pertumbuhan 4,67 persen, sejalan dengan kebutuhan pembiayaan kegiatan produksi dan pengembangan usaha, termasuk sektor perkebunan.

Sebaliknya, kredit konstruksi mengalami kontraksi 2,17 persen. BI menilai kondisi tersebut terutama berkaitan dengan aktivitas pembangunan kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang masih terbatas.

Meski demikian, aktivitas konstruksi diprakirakan meningkat pada Triwulan IV 2026.

Kredit UMKM kembali tumbuh, NPL membaik

Perkembangan positif juga terlihat pada penyaluran kredit untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Setelah mengalami kontraksi pada triwulan sebelumnya, kredit UMKM kembali mencatatkan pertumbuhan pada Triwulan III 2026.

BI mencatat penyaluran kredit UMKM mencapai Rp12,88 triliun atau tumbuh 0,34 persen secara tahunan. Angka tersebut lebih baik dibandingkan Triwulan II 2026 yang sebesar Rp12,79 triliun atau mengalami kontraksi 0,23 persen.

Kualitas kredit UMKM juga menunjukkan perbaikan. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) UMKM turun dari 4,2 persen menjadi 3,6 persen.

Perbaikan tersebut menjadi salah satu indikator positif bagi keberlanjutan pembiayaan UMKM. BI berharap perbankan semakin percaya diri memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha kecil dan menengah.

NPL perbankan turun, LDR meningkat

Di tengah perlambatan pertumbuhan kredit dan penurunan DPK, kualitas kredit perbankan secara keseluruhan masih terjaga.

Rasio NPL perbankan pada Triwulan III 2026 tercatat sebesar 2,34 persen, membaik dibandingkan Triwulan II 2026 yang mencapai 2,57 persen. Rasio tersebut juga masih berada di bawah batas 5 persen.

Sementara itu, rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) meningkat menjadi 95,39 persen dari sebelumnya 83,82 persen.

Kenaikan LDR mencerminkan penyaluran kredit yang relatif lebih besar dibandingkan dana pihak ketiga yang dihimpun perbankan.

Ke depan, BI Balikpapan akan memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah, perbankan, dan mitra strategis untuk mendorong penyaluran kredit yang lebih optimal, inklusif, dan berkualitas.

Upaya tersebut diharapkan dapat memperluas pembiayaan sektor usaha, mendukung investasi, serta membuka peluang penyerapan tenaga kerja.

BI juga terus mendorong kebijakan makroprudensial yang akomodatif agar pembiayaan sektor riil tetap berjalan dengan tetap memperhatikan stabilitas sistem keuangan.

IL
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update