Selasa, 03 Nov 2026 NasionalPerbankanInvestasiBisnisEkonomi
Breaking
Beranda › Nasional
Nasional

Menkes Sebut RI Tak Mampu Biayai Layanan Kesehatan 280 Juta Penduduk dengan Cara Kuratif

✍️ iken Larasati 🕒 30 Oct 2026 👁️ 8x dibaca
Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin dalam acara KKI, di Swissotel Jakarta PIK Avenue, Jakarta Utara, Jumat (30/10/2026).
Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin dalam acara KKI, di Swissotel Jakarta PIK Avenue, Jakarta Utara, Jumat (30/10/2026). Foto: KOMPAS.com/FIRDA JANATI

JurnalFinansial.com - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menilai Indonesia tidak akan mampu membiayai layanan kesehatan bagi 280 juta penduduk jika masih mengandalkan pendekatan kuratif atau pengobatan setelah seseorang jatuh sakit.

Karena itu, pemerintah mulai mengubah strategi pelayanan kesehatan dengan memperkuat pendekatan promotif dan preventif. Salah satu program yang dijalankan adalah Cek Kesehatan Gratis (CKG), yang bertujuan mendorong masyarakat memeriksa kondisi kesehatannya sejak dini.

"Sebagai bankir saya melihat, kalau pendekatan program kesehatan Kemenkes seperti yang lalu (kuratif ), enggak akan kuat kita membiayai layanan kesehatan Indonesia," kata Budi dalam Kongres Nasional XVI Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia di Kompleks DPR/MPR, Jakarta Pusat, Jumat (30/10/2026).

Menurut Budi, pendekatan promotif dan preventif juga membutuhkan biaya lebih rendah dibandingkan strategi kesehatan yang berfokus pada pengobatan.

Menkes bandingkan belanja kesehatan sejumlah negara

Untuk menggambarkan perbedaan biaya dan hasil pelayanan kesehatan, Budi membandingkan belanja kesehatan per kapita serta angka harapan hidup di sejumlah negara.

Ia mencontohkan Amerika Serikat (AS) yang mengeluarkan belanja kesehatan sekitar 11.900 dollar AS per kapita per tahun. Meski pengeluaran tersebut tergolong besar, angka harapan hidup penduduknya berada di sekitar 79 tahun.

Sebagai pembanding, Budi menyebut Kuba mengeluarkan belanja kesehatan sekitar 1.900 dollar AS per kapita per tahun, tetapi memiliki angka harapan hidup yang sama, yakni 79 tahun.

"Saya (sampai bilang kepada) Menteri Kesehatan Amerika Serikat yang dulu, yang namanya Bob Kennedy itu, saya bilang, "Kalau usia 70 tahun, saya akan pindah kewarganegaraan dari warga negara Amerika ke warga negara Panama atau Kuba". Kenapa? Karena Panama dan Kuba rata-rata usia hidupnya sama seperti Amerika, 79 tahun, tapi belanjanya cuma 1.900," beber Budi.

Budi juga membandingkan belanja kesehatan Jepang dan Singapura. Jepang mengalokasikan sekitar 5.500 dollar AS per kapita per tahun dengan angka harapan hidup 84 tahun.

Sementara itu, Singapura mengeluarkan belanja kesehatan sekitar 3.300 dollar AS per kapita per tahun, dengan angka harapan hidup yang sama.

"Singapura, yang sekarang agak enggak sehat karena asapnya banyak, itu usianya 84 sama dengan Jepang, belanjanya 3.300 (dollar AS)," beber dia.

Adapun Malaysia mengalokasikan belanja kesehatan sekitar 430 dollar AS per kapita per tahun dengan angka harapan hidup 76 tahun.

Indonesia perlu tambah belanja kesehatan

Budi menyebutkan, belanja kesehatan Indonesia saat ini baru mencapai sekitar 130 dollar AS per kapita per tahun. Angka harapan hidup penduduk Indonesia berada di kisaran 74 tahun.

Menurut perhitungannya, apabila Indonesia ingin menyamai tingkat belanja kesehatan Malaysia, pemerintah perlu menambah alokasi sekitar 300 dollar AS per kapita per tahun.

Dengan jumlah penduduk sekitar 280 juta orang, tambahan kebutuhan belanja tersebut diperkirakan mencapai 84 miliar dollar AS. Sementara itu, belanja kesehatan Indonesia saat ini disebut baru berada di angka Rp640 triliun.

Budi menilai perbandingan tersebut menunjukkan pentingnya strategi yang tidak hanya berfokus pada pengobatan ketika masyarakat sudah sakit. Pemerintah perlu memperkuat upaya menjaga kesehatan masyarakat agar kebutuhan pembiayaan pengobatan dapat ditekan.

"Kenapa Jepang lebih hemat daripada Amerika, usia lebih panjang? Karena strateginya di Jepang adalah menjaga masyarakatnya sehat, bukan mengobati saat sakit, Bapak/ibu. Singapura menjaga masyarakatnya sehat, bukan hanya mengobati saat sakit. Itu kenapa namanya Menteri Kesehatan, bukan Menteri Kesakitan," kata Budi.

Melalui penguatan pendekatan promotif dan preventif, termasuk program CKG, pemerintah berharap masyarakat dapat mengetahui kondisi kesehatannya lebih awal. Langkah tersebut juga diharapkan membantu menjaga keberlanjutan pembiayaan layanan kesehatan nasional.

IL
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update