Selasa, 03 Nov 2026 NasionalPerbankanInvestasiBisnisEkonomi
Breaking
Beranda › Perbankan
Perbankan

NIM Perbankan Tertekan pada Kuartal III/2026, BNI dan Mandiri Turun, BCA Naik

✍️ iken Larasati 🕒 28 Oct 2026 👁️ 8x dibaca
Ilustrasi bank
Ilustrasi bank Foto: Shutterstock

JurnalFinansial.com - Margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) perbankan menghadapi tekanan pada kuartal III/2026 di tengah pertumbuhan kredit dan dinamika biaya pendanaan. Sejumlah bank besar mencatatkan penyusutan margin, sedangkan kenaikan NIM pada bank lainnya ditopang oleh pertumbuhan kredit produktif dan pengelolaan biaya dana.

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) sama-sama menghadapi tekanan NIM. Sebaliknya, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) berhasil meningkatkan margin bunga bersih pada kuartal III/2026.

BNI mencatatkan NIM sebesar 3,5% hingga September 2026, turun 30 basis poin secara tahunan. Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh penyusutan imbal hasil kredit atau loan yield dari 7,3% menjadi 6,9%.

Tekanan margin tersebut terjadi ketika penyaluran kredit BNI masih tumbuh kuat. Hingga September 2026, kredit perseroan mencapai Rp992,5 triliun, meningkat 22,2% secara tahunan (year on year/YoY).

Dari sisi pendanaan, BNI berhasil menurunkan biaya dana atau cost of fund (CoF) dari 2,83% menjadi 2,77%. Perbaikan ini ditopang oleh pertumbuhan dana murah atau current account and savings account (CASA) sebesar 19,6% secara tahunan menjadi Rp733,7 triliun.

Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengatakan perseroan menerapkan ekspansi kredit secara selektif di seluruh segmen dengan mengedepankan disiplin analisis kelayakan kredit atau underwriting.

"Pertumbuhan kredit yang selektif dan penguatan dana murah menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan profitabilitas. Kami terus mengoptimalkan struktur pendanaan agar pertumbuhan tetap sehat dan berkelanjutan," tuturnya dalam keterangan resmi, Selasa (27/10/2026).

Penguatan pendanaan BNI juga terlihat dari pertumbuhan giro sebesar 25,9% secara tahunan hingga September 2026. Angka tersebut melampaui pertumbuhan industri sebesar 9,8% berdasarkan data Agustus 2026.

Pangsa pasar giro BNI meningkat 120 basis poin menjadi 13,2%, sedangkan pangsa pasar tabungan naik 10 basis poin menjadi 9,2%. Tabungan perseroan tumbuh 11,6% secara tahunan.

Meski NIM menurun, BNI masih mencatatkan pertumbuhan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) sebesar 13,6% secara tahunan menjadi Rp33,2 triliun. Pendapatan berbasis komisi atau fee-based income juga naik 8,3% menjadi Rp13,9 triliun.

Kinerja tersebut menopang laba bersih BNI yang mencapai Rp16,1 triliun hingga kuartal III/2026, tumbuh 6,6% secara tahunan. Sementara itu, laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) meningkat 11,6% menjadi Rp27,5 triliun.

NIM BCA Naik Menjadi 5,6%

Berbeda dengan BNI, BCA mencatatkan peningkatan NIM pada kuartal III/2026. Margin bunga bersih perseroan naik menjadi 5,6% dari 5,3% pada kuartal II/2026.

Direktur Keuangan BCA Vera Eve Lim mengatakan peningkatan tersebut didukung oleh pertumbuhan kredit produktif dan biaya dana yang stabil.

"NIM kami meningkat dari 5,3% pada kuartal II menjadi 5,6% pada kuartal III. Hal ini didukung oleh pertumbuhan kredit produktif dan biaya dana yang stabil," ujar Vera dalam paparan kinerja BCA, Selasa (27/10/2026).

Hingga September 2026, kredit produktif BCA mencapai Rp831 triliun, tumbuh 17,2% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh segmen korporasi yang meningkat 20,9%, kredit usaha kecil dan menengah (UKM) yang tumbuh 15,4%, serta kredit komersial yang naik 7,8%.

Dari sisi pendanaan, CASA BCA tumbuh 10,4% secara tahunan. Dana giro meningkat 14,9%, sedangkan tabungan tumbuh 7,4%.

Kombinasi pertumbuhan kredit produktif dan stabilitas biaya dana membantu BCA memperlebar margin bunga bersih. Kendati demikian, keberlanjutan kenaikan NIM akan bergantung pada perkembangan imbal hasil kredit dan biaya pendanaan pada periode berikutnya.

Margin Bank Mandiri Menyusut di Tengah Kenaikan Biaya Dana

Sementara itu, Bank Mandiri masih menghadapi tekanan margin di tengah peningkatan biaya pendanaan. Hingga September 2026, NIM konsolidasi perseroan tercatat sebesar 4,43%, turun dari 4,56% pada semester I/2026 dan 4,89% pada akhir 2025.

Pada kuartal III/2026, CoF Bank Mandiri secara individual meningkat 30 basis poin secara kuartalan menjadi 2,34%. Kenaikan tersebut terutama dipicu oleh meningkatnya biaya deposito berjangka.

Di sisi lain, perseroan mulai mencatatkan perbaikan imbal hasil kredit. Yield on loan Bank Mandiri secara individual naik 12 basis poin secara kuartalan menjadi 7,03% pada kuartal III/2026, seiring berlanjutnya penyesuaian suku bunga kredit atau repricing.

Namun, peningkatan imbal hasil kredit tersebut belum cukup untuk mengimbangi tekanan beban bunga. Bank Mandiri membukukan NII konsolidasi sebesar Rp21,97 triliun pada kuartal III/2026, turun 3,58% secara kuartalan dari Rp22,79 triliun pada kuartal II/2026. Meski demikian, secara tahunan NII masih tumbuh 3,40%.

Secara kumulatif, NII Bank Mandiri mencapai Rp69,81 triliun hingga September 2026, meningkat 6,54% dibandingkan dengan Rp65,53 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Untuk menjaga margin, Bank Mandiri melanjutkan penyesuaian suku bunga kredit pada portofolio eksisting maupun kredit baru. Perseroan juga meningkatkan penghimpunan CASA untuk menahan kenaikan biaya dana serta mengurangi porsi pendanaan dari liabilitas tresuri berbiaya tinggi.

Bank Mandiri mempertahankan proyeksi NIM konsolidasi sepanjang 2026 pada kisaran 4,3%–4,5%. Dengan NIM sebesar 4,43% hingga September 2026, perseroan masih berada dalam rentang target tersebut.

Biaya Dana Menjadi Penentu NIM Perbankan

Senior Vice President and Head of Research Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai pergerakan NIM perbankan pada kuartal III/2026 dipengaruhi oleh perubahan biaya dana, kecepatan penyesuaian suku bunga kredit, serta komposisi pertumbuhan kredit.

"Tekanan terbesar berpotensi berasal dari biaya dana karena kebutuhan pendanaan meningkat seiring pertumbuhan kredit yang lebih cepat dibandingkan DPK. Bank yang memiliki CASA rendah dan ketergantungan tinggi pada deposito berjangka akan lebih rentan terhadap kenaikan biaya dana," ujarnya kepada Bisnis.

Menurut Trioksa, penyesuaian suku bunga kredit yang tidak secepat perubahan biaya dana turut membatasi kemampuan bank mempertahankan margin. Kondisi tersebut diperberat oleh persaingan penyaluran kredit dan karakteristik kontrak pinjaman yang membuat penyesuaian bunga membutuhkan waktu.

"Pertumbuhan kredit korporasi yang relatif tinggi turut memengaruhi NIM karena segmen tersebut umumnya menawarkan margin lebih tipis dibandingkan sejumlah segmen konsumer dan UMKM," katanya.

Trioksa memperkirakan tekanan terhadap NIM perbankan masih berlanjut hingga akhir 2026. Namun, margin berpeluang lebih stabil pada 2027 apabila pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) membaik dan persaingan bunga deposito mereda.

Salah satu faktor yang berpotensi membantu meredakan tekanan tersebut adalah kebijakan Bank Indonesia (BI) yang menurunkan giro wajib minimum (GWM) bank umum konvensional dari 9% menjadi 7% secara bertahap.

Trioksa memperkirakan kebijakan tersebut dapat memberikan tambahan likuiditas sekitar Rp190 triliun bagi perbankan. Tambahan likuiditas itu berpotensi mengurangi ketergantungan bank pada sumber pendanaan mahal sekaligus memperluas ruang penempatan dana pada aset produktif.

"Kebijakan BI menurunkan GWM dari 9% menjadi 7% secara bertahap dapat membantu mengurangi tekanan tersebut dengan memperbesar likuiditas yang dapat dikelola bank. Estimasi tambahan likuiditas sekitar Rp190 triliun memberikan ruang bagi perbankan untuk mengurangi ketergantungan pada pendanaan mahal dan meningkatkan penempatan pada aset produktif," ujar Trioksa.

Meski demikian, dia mengingatkan bahwa pelonggaran likuiditas tidak serta-merta meningkatkan NIM seluruh bank. Dampaknya bergantung pada struktur pendanaan, komposisi kredit, serta kemampuan masing-masing bank dalam menyesuaikan suku bunga aset dan kewajiban.

"Kenaikan Deposit Facility BI menjadi 5% juga perlu dicermati karena meningkatkan daya tarik penempatan dana jangka pendek di bank sentral. Pelonggaran GWM lebih tepat dipandang sebagai instrumen untuk meredakan tekanan likuiditas dan membantu stabilisasi margin, bukan jaminan bahwa NIM akan meningkat," katanya.

Menurut Trioksa, bank dengan struktur pendanaan yang kuat, porsi CASA besar, pengelolaan aset dan liabilitas yang baik, serta kualitas kredit yang terjaga akan lebih mampu mempertahankan margin dibandingkan dengan bank yang bergantung pada deposito berbiaya tinggi.

Dengan demikian, arah pergerakan NIM perbankan hingga akhir 2026 akan ditentukan oleh kemampuan setiap bank mengelola biaya pendanaan, menjaga kualitas kredit, dan menyesuaikan imbal hasil aset. Pertumbuhan kredit yang tinggi tetap penting, tetapi belum tentu menghasilkan margin lebih besar apabila tidak diimbangi pendanaan yang efisien.

IL
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update