Kamis, 05 Nov 2026 NasionalPerbankanInvestasiBisnisEkonomi
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

OJK Sebut Keuangan Indonesia Tetap Stabil, Ekonomi Tumbuh 5,4% pada Kuartal III 2026

✍️ iken Larasati 🕒 05 Nov 2026 👁️ 0x dibaca
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi saat ditemui di Hotel St. Regis, Jakarta, Selasa (30/6/2026).
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi saat ditemui di Hotel St. Regis, Jakarta, Selasa (30/6/2026). Foto: KOMPAS.com/ISNA RIFKA SRI RAHAYU

JurnalFinansial.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan sektor jasa keuangan Indonesia masih terjaga stabil di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Meski pasar internasional menghadapi tekanan akibat konflik geopolitik, kenaikan harga energi, inflasi, dan prospek suku bunga tinggi, sejumlah indikator ekonomi domestik masih menunjukkan perkembangan positif.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan tekanan inflasi global masih menjadi perhatian, terutama akibat kenaikan harga energi seiring eskalasi konflik geopolitik. Kondisi tersebut mendorong inflasi di sejumlah negara, termasuk Jepang dan Inggris, hingga melampaui rentang sasaran yang ditetapkan.

"Dinamika inflasi global masih dipengaruhi oleh kenaikan harga energi seiring eskalasi konflik geopolitik," kata Friderica dalam Rapat Dewan Komisioner Bulan Oktober 2026, Kamis (5/11/2026).

Tekanan inflasi membuat sejumlah bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat. Suku bunga acuan global pun diperkirakan masih berada pada level tinggi hingga 2027.

Pada saat bersamaan, ruang fiskal pemerintah di berbagai negara semakin terbatas sehingga kemampuan memberikan stimulus dan subsidi ikut menyusut. Situasi ini terutama terlihat di kawasan Eropa, ketika kenaikan harga barang turut menekan daya beli masyarakat.

"Sejumlah negara bahkan menghadapi kebutuhan konsolidasi fiskal melalui penyesuaian anggaran belanja pemerintah," tuturnya.

Friderica menilai tekanan ekonomi tersebut berpotensi meningkatkan ketegangan sosial dan memicu ketidakstabilan di sejumlah negara. Ekspektasi suku bunga tinggi yang disertai peningkatan risiko politik global juga mendorong investor mengambil sikap lebih berhati-hati atau risk-off.

Tekanan pasar internasional turut tercermin dari koreksi saham-saham teknologi. Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah di berbagai negara terus meningkat hingga menyentuh level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.

Konsumsi Domestik dan Aktivitas Manufaktur Masih Tumbuh

Di dalam negeri, OJK mencermati perubahan pola konsumsi masyarakat yang cenderung lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang. Kenaikan inflasi domestik terutama dipengaruhi oleh meningkatnya harga pangan. Namun, pertumbuhan uang beredar dan inflasi inti masih relatif terkendali.

Dari sisi konsumsi, penjualan kendaraan bermotor masih menunjukkan pertumbuhan cukup kuat, terutama didorong oleh peningkatan penjualan mobil listrik.

"Penjualan kendaraan bermotor tumbuh cukup solid terutama didorong oleh penjualan mobil listrik," jelasnya.

Sementara itu, aktivitas sektor produksi juga memperlihatkan penguatan. Hal tersebut tercermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 yang naik ke level 54, sekaligus menjadi posisi tertinggi sejak Maret 2024.

Kinerja perekonomian nasional turut mencatatkan pertumbuhan positif. Pada kuartal III 2026, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,4 persen secara tahunan (year on year/YoY).

Friderica menambahkan, pertumbuhan tersebut berlangsung di seluruh lapangan usaha. Perkembangan ini menjadi salah satu indikator aktivitas ekonomi domestik tetap berjalan positif meskipun tekanan dan ketidakpastian global meningkat.

IL
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update