Selasa, 03 Nov 2026 NasionalPerbankanInvestasiBisnisEkonomi
Breaking
Beranda › Bisnis
Bisnis

“Yang ingin dicapai adalah keterwakilan dan sinergi antar-helix, khususnya bisnis dan akademisi, yang berdampak langsung pada mahasiswa. Mereka bisa bersentuhan langsung dengan dunia bisnis riil melal

✍️ iken Larasati 🕒 22 Oct 2026 👁️ 7x dibaca
Tiga pengusaha perempuan berbagi pengalaman membangun bisnis dan memperkuat kolaborasi yang diselenggarakan FMI Jatim dan BMN Institute menggelar WOW 2026 di Hotel Platimun Tunjungan, Selasa (20/10/2026) siang.
Tiga pengusaha perempuan berbagi pengalaman membangun bisnis dan memperkuat kolaborasi yang diselenggarakan FMI Jatim dan BMN Institute menggelar WOW 2026 di Hotel Platimun Tunjungan, Selasa (20/10/2026) siang. Foto: KOMPAS.COM/SUCI RAHAYU

JurnalFinansial.com - Perempuan pelaku usaha masih menghadapi sejumlah tantangan untuk mengembangkan bisnis, mulai dari terbatasnya akses jejaring hingga minimnya ruang untuk menunjukkan kemampuan. Selain usaha yang potensial, mereka juga membutuhkan ketangguhan dan kolaborasi agar bisa berkembang di tengah perubahan ekosistem digital. Isu ini mengemuka dalam Womenpreneur Talkshow bertajuk Women Empowering Women (WOW) yang digelar Forum Manajemen Indonesia (FMI) Koordinator Wilayah Jawa Timur bersama BMN Institute.

Forum ini menjadi ruang bagi perempuan pelaku usaha untuk berbagi pengalaman membangun bisnis, memperkuat kepemimpinan, dan memperluas kolaborasi. Tiga pengusaha dan praktisi perempuan hadir sebagai pembicara: Maria Sumargo, pemilik GBT Laras Imbang; Alfawzia Nurrahmi, pendiri Pruf Ritz Communications Hub; serta drg. Cintantya Intan, Dental Director Gladwill Aesthetic Dental.

Konsistensi Jadi Kunci Bertahan

Maria Sumargo menilai perempuan punya kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk mengembangkan usaha. Namun, masih banyak perempuan dengan bisnis potensial yang belum mendapat eksposur memadai. Menurutnya, keberhasilan usaha tidak ditentukan gender, melainkan kemauan belajar dan ketangguhan menghadapi persoalan.

“Kunci sukses bisnis, seperti yang saya pelajari dari Papa dan Kakek saya, adalah fokus, konsisten, dan komitmen. Masalah pasti akan selalu datang, tetapi seberapa bertahan dan tidak mudah menyerah kita dalam menghadapinya, itulah yang menentukan,” ujar Maria.

Selain berbagi pengalaman, Maria menjadi juri dalam Business Management National Competition (BMNC). Ia terkesan dengan kreativitas mahasiswa yang berani menawarkan gagasan di luar kebiasaan.

“Teman-teman mahasiswa ini punya ide-ide yang luar biasa dan kadang out of the box. Walaupun ada ide yang secara realita agak sulit dieksekusi saat ini, mereka sangat antusias dan tampil maksimal saat presentasi,” imbuhnya.

Salah satu gagasan yang menarik perhatiannya adalah layanan spooring mobil bergerak menggunakan truk kontainer 40 kaki. Ada pula peserta yang mengusulkan ekspansi bisnis GBT ke luar negeri, seperti Malaysia atau India, dengan mempertimbangkan perbedaan budaya dan bahasa.

Menyambungkan Perempuan, Akademisi, dan Dunia Usaha

Sekretaris Jenderal FMI Tuwanku Aria Auliandri dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Surabaya menyebut penguatan daya saing bangsa membutuhkan kontribusi banyak pihak, termasuk perempuan pelaku usaha. FMI karenanya mempertemukan akademisi, pemerintah, dan dunia bisnis lewat rangkaian Seminar Nasional FMI.

“Penguatan daya saing bangsa tidak lepas dari peran pelaku usaha, termasuk perempuan. Lewat rangkaian seminar ini, termasuk WOW, kami ingin menyambungkan dunia akademik dengan praktik bisnis nyata,” kata Aria.

Seminar Nasional FMI telah digelar sejak 2008. Pada 2026, kegiatan memasuki penyelenggaraan ke-18 untuk wilayah Jawa Timur dan berlangsung hibrida pada 20-22 Oktober 2026. Diikuti sekitar 900 peserta dari 25 provinsi, 85 kota, dan 180 universitas, dengan sekitar 350 peserta hadir langsung di Hotel Platinum Tunjungan, Surabaya.

Chief of Business Management National (BMN) Activities Series Rizki Priyoko menjelaskan, WOW merupakan bagian dari rangkaian yang mencakup Seminar Nasional FMI, Call for Papers, Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), dan BMNC. Kolaborasi lintas sektor diharapkan mempertemukan kebutuhan bisnis dengan pemikiran akademisi serta memberi pengalaman praktis bagi mahasiswa.

“Yang ingin dicapai adalah keterwakilan dan sinergi antar-helix, khususnya bisnis dan akademisi, yang berdampak langsung pada mahasiswa. Mereka bisa bersentuhan langsung dengan dunia bisnis riil melalui talkshow bersama para pelaku usaha,” tuturnya.

Peluang Hingga Luar Jawa

BMNC memberi mahasiswa kesempatan menguji gagasan berdasarkan persoalan nyata perusahaan, salah satunya lewat business case dengan studi kasus dari GBT. Menurut Rizki, hasil riset dan gagasan mahasiswa berpotensi menjadi bahan pertimbangan perusahaan dalam menyusun strategi bisnis maupun kegiatan riset dan pengembangan (R&D).

Kompetisi tahun ini diikuti 85 tim dari berbagai daerah, mulai dari Merauke, Palu, Medan, hingga Kupang.

“Indonesia itu luas, bukan hanya Pulau Jawa. Misi FMI mengusung kata Indonesia sehingga kegiatan seperti ini harus menjangkau seluruh wilayah,” kata Rizki.

IL
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update